CNN Indonesia
Kamis, 09 Apr 2026 06:45 WIB
Ilustrasi. Tanpa alat deteksi kebohongan, kamu bisa melihatnya hanya dari 10 tanda ini. (Pixabay/Foundry)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kebohongan adalah bagian dari kehidupan manusia. Hampir semua orang pernah melakukannya, bahkan sejumlah studi menunjukkan rata-rata orang bisa berbohong satu hingga dua kali setiap hari.
Namun, kabar baiknya, para ahli menyebut ada sejumlah tanda yang bisa membantu kita mengenali ketika seseorang tidak berkata jujur atau berbohong.
Melansir Times, ahli bahasa tubuh Traci Brown menyebut langkah pertama untuk mendeteksi kebohongan adalah memahami 'baseline' atau perilaku normal seseorang saat berkata jujur. Misalnya, bagaimana arah pandangan matanya, bagaimana nada bicaranya, atau bagaimana responsnya saat menjawab pertanyaan sederhana seperti asal daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah memahami pola dasar tersebut, perubahan kecil bisa menjadi petunjuk penting. Berikut sejumlah tanda yang kerap dikaitkan dengan kebohongan menurut para pakar, melansir dari Forensics Colleges:
1. Perubahan pola bicara
Perubahan cara berbicara bisa menjadi sinyal awal. Mantan profiler FBI Gregg McCrary menyebutkan bahwa orang yang berbohong sering mengalami perubahan dalam nada suara, kecepatan bicara, atau kebiasaan verbal.
Biasanya, perbedaan ini terlihat ketika seseorang mulai menjawab pertanyaan yang lebih sulit dibanding pertanyaan dasar.
2. Gerakan tubuh tidak selaras
Psikolog klinis Ellen Hendriksen menjelaskan bahwa gestur yang tidak selaras dengan ucapan bisa menjadi tanda kebohongan.
Contohnya, seseorang mengatakan 'ya' tetapi menggelengkan kepala.
Ketidaksesuaian ini sering kali justru menunjukkan respons yang lebih jujur dari tubuh dibanding kata-kata.
3. Terlalu sedikit memberi detail
Orang yang berkata jujur cenderung bisa menambahkan detail saat diminta menjelaskan lebih lanjut. Sebaliknya, pembohong sering kali memberikan informasi minim dan cenderung menghindari penjelasan tambahan.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai 'kebohongan dengan penghilangan informasi.'
4. Justru terlalu banyak bicara
Menariknya, kebalikannya juga bisa terjadi. Penelitian dari Harvard Business School menemukan bahwa pembohong kadang justru berbicara terlalu panjang dan penuh detail.
Mereka menambahkan informasi berlebihan untuk meyakinkan lawan bicara atau bahkan meyakinkan diri sendiri.
5. Perubahan nada suara
Nada suara yang tiba-tiba naik atau turun bisa menjadi indikator lain. Namun, faktor budaya juga berperan.
Psikolog David Matsumoto menemukan bahwa orang dari latar budaya berbeda menunjukkan perubahan nada suara yang berbeda saat berbohong. Karena itu, konteks budaya perlu diperhatikan.
6. Kontak mata yang tidak biasa
Banyak orang percaya bahwa menghindari kontak mata adalah tanda kebohongan. Namun, penelitian menunjukkan hal ini tidak selalu benar. Bahkan, sebagian orang justru mempertahankan kontak mata secara intens saat berbohong untuk terlihat meyakinkan.
Gerakan seperti menutup mulut atau mata bisa menjadi refleks bawah sadar untuk 'menyembunyikan' kebohongan. Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan bisa memejamkan mata saat menjawab pertanyaan.
8. Gelisah berlebihan
Gerakan kecil seperti menggigit bibir, memainkan jari, atau menggerakkan tangan secara berlebihan bisa menjadi tanda kecemasan. Respons ini berkaitan dengan reaksi tubuh terhadap stres, yang sering muncul saat seseorang tidak berkata jujur.
9. Menyalahkan orang lain
Menunjuk atau mengalihkan perhatian ke orang lain, baik secara verbal maupun gestur bisa menjadi upaya untuk menghindari tanggung jawab. Perubahan sikap dari tenang menjadi agresif juga patut dicermati.
10. Mengaku sebagai 'pembohong ulung'
Cara paling mudah mengenali pembohong? Kadang, mereka mengakuinya sendiri.
Penelitian dalam jurnal PLOS One menemukan bahwa orang yang menganggap dirinya 'pandai berbohong' justru lebih sering melakukannya, meski dalam bentuk kebohongan kecil sehari-hari.
Meski berbagai tanda di atas bisa menjadi petunjuk, para ahli mengingatkan bahwa tidak ada metode yang sepenuhnya akurat. Psikolog klinis Jenny Taitz menekankan bahwa banyak faktor bisa membuat seseorang terlihat gelisah atau tidak nyaman tanpa harus berbohong.
Bahkan, penelitian menunjukkan hanya sekitar 54 persen kebohongan yang bisa dikenali dengan tepat.
Di era digital saat ini, kebohongan juga tidak hanya terjadi secara tatap muka. Penipuan melalui telepon, email, hingga media sosial justru menjadi ancaman terbesar, dengan kerugian mencapai miliaran dolar setiap tahunnya.
Karena itu, selain mengandalkan intuisi dan pengamatan, langkah paling aman tetaplah menjaga informasi pribadi dan tidak mudah percaya, terutama kepada orang yang belum dikenal.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google


















































