Apakah Jakarta Sudah Masuk Musim Kemarau? Ini Kata BMKG

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya masih rutin diguyur hujan dalam beberapa waktu terakhir, padahal memasuki Bulan April wilayah Indonesia mulai masuk musim kemarau. Lantas, apakah Jakarta belum masuk musim kemarau?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap curah hujan yang masih tinggi di sejumlah wilayah merupakan karakteristik masa peralihan musim dan intensitas curah hujan akan bergantung pada kapan musim kemarau di wilayah tersebut mulai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, di Jakarta saat ini belum masuk musim kemarau.

"Per hari ini belum masuk kemarau. [Kemungkinan musim kemarau di Jakarta] mulai Mei dasarian pertama," kata Ardhasena saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (9/4).

Cuaca yang cenderung masih basah ini dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer, seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) di sejumlah wilayah, serta fenomena MJO yang melintasi sebagian besar wilayah Sumatera. Selain itu, peralihan Monsun Asia menuju Monsun Australia juga berperan dalam membentuk pola sirkulasi udara dan area konvergensi di beberapa daerah.

Tidak hanya itu, perlambatan kecepatan angin dan pemanasan permukaan yang cukup intens pada siang hari turut memperkuat pembentukan awan konvektif yang berpotensi menyebabkan hujan. BMKG juga mendeteksi sirkulasi siklonik di Samudra Hindia selatan Lampung, Selat Karimata, Laut Banda, dan Laut Arafuru yang mendorong terbentuknya zona pertemuan angin, konvergensi, dan konfluensi.

"Sehingga meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan baik di sekitar pusat sirkulasi maupun di wilayah yang dipengaruhi pola angin tersebut," ujar BMKG dalam laman resminya.

Menurut BMKG kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal. Dari sisi global, fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral, dengan indeks NINO 3.4 sebesar -0.35 dan indeks SOI sebesar +2.1, sehingga belum memberikan dampak yang berarti terhadap peningkatan aktivitas konvektif di wilayah Indonesia.

Sementara itu, Dipole Mode Index (DMI) tercatat sebesar -0.14 dan juga berada pada fase netral, yang menandakan belum ada suplai massa udara yang signifikan dari Samudra Hindia bagian timur Afrika ke wilayah Indonesia, khususnya bagian barat, sehingga pengaruhnya terhadap pola curah hujan nasional masih relatif terbatas.

Pada skala regional, Monsun Australia terpantau semakin menguat dan diprakirakan tetap dominan dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan aliran massa udara dari Australia menuju Indonesia yang umumnya bersifat lebih kering.

Sejalan dengan itu, hasil analisis angin zonal menunjukkan dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia, yang mengindikasikan beberapa daerah mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.

Namun, sejumlah dinamika atmosfer masih berperan dalam mendukung potensi hujan di beberapa wilayah Indonesia. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan melintasi sebagian wilayah Sumatera, Perairan selatan Banten, dan Perairan utara Papua, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di kawasan tersebut.

Di samping itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang bergerak ke arah barat diprakirakan aktif di sebagian wilayah Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian Papua. Sementara itu, Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur juga diprakirakan aktif melintasi sebagian besar Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Papua.

Sirkulasi siklonik juga berpotensi muncul di Samudra Hindia barat daya Banten dan Laut Banda.

"Keberadaan sistem-sistem ini dapat memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah terdampak," kata BMKG.

 Fakta-fakta Fenomena 'Godzilla' El NinoFakta-fakta Fenomena 'Godzilla' El Nino (Foto: CNN Indonesia/ Firly Ariady)

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International