Klaim Menang Perang, Kenapa AS Tak Kunjung Bisa Rebut Selat Hormuz?

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah Israel membombardir Lebanon selatan.

Padahal penghentian serangan ke Lebanon Selatan merupakan bagian klausul gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS yang mengklaim menang lawan Iran pun, tak bisa memaksa Iran merebut dan membuka Selat Hormuz. Presiden Donald Trump hanya bisa mencak-mencak di media sosial Truth Social agar Selat Hormuz dibuka.

"Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz," kata Trump, dalam unggahannya di Truth Social.

"Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!" Trump menambahkan.

Selama menggempur Iran, Trump berambisi menguasai minyak negara itu dan ikut mengendalikan Selat Hormuz. Tapi tetap tidak bisa.

Penuh risiko

Ternyata merebut Selat Hormuz dari Iran merupakan aksi penuh risiko. Menurut ahli perang laut AS Jennifer Parker, sebagaimana dilansir The Independent, ada sejumlah risiko yang dihadapi AS.

Upaya membuka Selat Hormuz tidak hanya soal mengerahkan kapal perang, tapi juga perlu mengendalikan wilayah daratan di sekitar selat, terutama garis pantai Iran yang menjadi titik peluncuran serangan.

Artinya, bila AS ingin merebut, maka harus siap juga dengan pengerahan pasukan darat atau operasi serangan terbatas ke wilayah Iran. 

Peta kekuatan militer Iran di darat tentu belum sepenuhnya bisa diperkirakan AS. Langkah ini jelas dihindari Trump sebab bisa memperluas konflik.

Belum lagi jumlah kapal perang yang harus dikirim. Sebab AS harus menyediakan pengawalan militer bagi setiap kapal tanker yang lewat.

"Sebelum ancaman dari wilayah pantai Iran benar-benar dikurangi, pengerahan kapal perang justru bisa menimbulkan kerugian besar bagi AS," kata Parker.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International