Mengenal Tall Poppy Syndrome, Rasa Iri atas Kesuksesan Teman

4 hours ago 1

CNN Indonesia

Selasa, 07 Apr 2026 10:00 WIB

Sering diremehkan karena sukses? Bisa jadi Anda mengalami tall poppy syndrome. Kenali tanda dan cara mengatasinya. Ilustrasi. Tall poppy syndrome adalah sifat iri saat teman sejawat sukses. (iStockphoto/DragonImages)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah budaya yang kerap menjunjung kerendahan hati, menjadi menonjol ternyata tidak selalu membawa pujian. Bagi sebagian orang, kesuksesan justru bisa memicu penilaian negatif, kritik, hingga perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan sekitar.

Fenomena ini dikenal sebagai tall poppy syndrome.

Melansir Medical News Today, istilah ini merujuk pada kecenderungan orang untuk 'memotong' individu yang dianggap terlalu sukses atau menonjol. Kondisi ini kerap muncul di tempat kerja, tetapi juga bisa terjadi dalam lingkup pertemanan, keluarga, hingga media sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari rasa iri, kompetisi tidak sehat, hingga bias seperti seksisme dan rasisme. Sejumlah riset bahkan menunjukkan bahwa perempuan dan kelompok minoritas lebih rentan mengalami perlakuan ini, terutama saat mereka mencapai posisi tinggi.

Lalu, bagaimana mengenali tanda-tandanya? Berikut beberapa tanda ada tall poppy syndrome di lingkungan Anda, melansir Psychology Today:

1. Dikritik karena dianggap 'terlalu ambisius'

Alih-alih diapresiasi, Anda justru kerap mendapat komentar miring saat menunjukkan pencapaian. Label seperti 'terlalu ambisius' 'sok menonjol', atau 'berusaha terlalu keras' mungkin sering Anda dengar.

Dalam budaya yang menjunjung kesetaraan, individu yang tampil berbeda atau lebih unggul kerap dianggap mengganggu keharmonisan kelompok. Tak jarang, kritik tersebut muncul sebagai bentuk pertahanan diri orang lain yang merasa terancam atau tidak percaya diri.

Dampaknya, korban bisa mengalami penurunan rasa percaya diri dan kesulitan menempatkan diri dalam lingkungan sosial.

2. Menghadapi sikap tidak bersahabat di tempat kerja

Di lingkungan profesional, tall poppy syndrome bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus namun berdampak besar. Misalnya, Anda tidak dilibatkan dalam diskusi penting, diabaikan saat ada peluang promosi, atau bahkan sengaja 'ditahan' di posisi tertentu.

Beberapa atasan mungkin enggan mempromosikan karyawan berprestasi karena khawatir kehilangan produktivitas tim. Sementara rekan kerja bisa menunjukkan sikap iri melalui komunikasi negatif atau sikap menjauh.

Situasi ini dapat memicu kecemasan, keraguan diri, hingga membuat seseorang enggan menunjukkan potensi terbaiknya.

3. Enggan berkarya karena takut dicemooh

Tak hanya di kantor, fenomena ini juga terasa di dunia kreatif. Banyak individu berbakat memilih menahan diri untuk berkarya karena takut mendapat komentar negatif atau dianggap 'cringe'.

Dalam konteks budaya, kondisi ini bahkan bisa berkembang menjadi kecenderungan meremehkan karya lokal dan lebih mengagungkan produk luar. Misalnya, seseorang lebih bangga mengapresiasi karya global seperti BTS, tetapi enggan mendukung musisi lokal dengan gaya serupa.

Akibatnya, banyak talenta potensial yang tidak berkembang optimal karena kurangnya dukungan dari lingkungan sendiri.

Cara menghadapi tall poppy syndrome

Jika Anda merasa menjadi sasaran tall poppy syndrome, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

• Sadari ini bukan kesalahan Anda

Perlakuan tersebut lebih mencerminkan rasa tidak aman orang lain, bukan nilai diri Anda.

• Cari lingkungan yang suportif

Pilih komunitas atau tempat kerja yang menghargai pencapaian dan mendorong pertumbuhan.

• Bangun ketahanan diri

Fokus pada validasi internal, bukan sekadar pengakuan eksternal.

• Kembangkan pola pikir bertumbuh

Biasakan merayakan keberhasilan orang lain dan menciptakan budaya positif.

• Pertimbangkan untuk berpindah lingkungan

Jika situasi terus merugikan, mencari tempat baru bisa menjadi pilihan sehat.

Ingat, kesuksesan bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan. Tantangan seperti tall poppy syndrome justru menjadi pengingat bahwa tidak semua lingkungan siap merayakan pencapaian.

Namun, selama Anda berada di jalur yang tepat dan memberikan dampak positif, tidak ada alasan untuk merendahkan diri. Berdirilah tegak, karena tumbuh tinggi bukanlah kesalahan.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International