Bukan Tak Peduli, Ini 9 Kepribadian Orang yang Senang saat Janji Batal

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Rabu, 08 Apr 2026 06:46 WIB

Rasa senang saat ada janji yang dibatalkan bukan berarti tanda tak ingin bersosialisasi. Berbagai kepribadian ada di baliknya. Ilustrasi. Rasa senang saat ada janji yang dibatalkan bukan berarti tanda tak ingin bersosialisasi. (JESHOOTS/pixabay)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kepribadian orang yang diam-diam merasa lega saat janji dibatalkan sering kali disalahpahami sebagai tanda tidak peduli atau kurang menghargai orang lain.

Dalam banyak situasi, seseorang tetap menerima undangan sebagai bentuk sopan santun atau dukungan terhadap orang terdekat. Namun, ketika rencana tersebut dibatalkan, muncul rasa lega yang sulit dijelaskan seolah beban yang sebelumnya tidak disadari tiba-tiba hilang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini tidak selalu berarti seseorang tidak ingin bersosialisasi. Namun, hal ini bisa mencerminkan karakter tertentu yang membuat mereka lebih selektif dalam menggunakan energi sosial.

Berikut sejumlah ciri kepribadian yang sering ditemukan pada orang yang diam-diam merasa lega saat janji dibatalkan.

1. Cenderung introvert

Melansir dari Your Tango, orang yang cenderung merasa lega ketika rencana dibatalkan adalah orang-orang introvert. Orang dengan kecenderungan introvert biasanya membutuhkan waktu sendiri untuk mengisi ulang energi.

Berbeda dengan ekstrovert yang merasa berenergi setelah bertemu banyak orang, introvert justru bisa merasa terkuras, terutama dalam acara yang ramai atau berlangsung lama.

2. Menghindari konflik dan sulit mengatakan 'tidak'

Sebagian orang memiliki kecenderungan menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan ketegangan. Mereka merasa tidak enak jika harus menolak ajakan secara langsung.

Akibatnya, mereka lebih memilih mengatakan 'ya' meskipun sebenarnya ragu. Ketika rencana dibatalkan oleh pihak lain, mereka merasa terbebas dari situasi yang sejak awal sudah membuat tidak nyaman, tanpa harus menghadapi risiko konflik.

3. Sensitif terhadap lingkungan sekitar

Beberapa orang memiliki sensitivitas tinggi terhadap sekitar, seperti suara bising, keramaian, atau pencahayaan yang terlalu terang. Lingkungan sosial tertentu, seperti pesta atau tempat ramai, bisa memicu kelelahan sensorik.

Dalam kondisi ini, rasa lega muncul bukan karena tidak ingin bertemu orang, tetapi karena mereka terhindar dari lingkungan yang berpotensi membuat tidak nyaman atau kewalahan.

Mengutip dari Bolde, penelitian tentang sensitivitas sensorik menunjukkan, sekitar 15-20 persen populasi memiliki sistem saraf yang memproses rangsangan lebih dalam yang menyebabkan seseorang lebih cepat kewalahan di lingkungan yang ramai.

4. Memiliki sopan santun yang kuat

Orang yang dibesarkan dengan nilai sopan santun cenderung merasa memiliki kewajiban sosial untuk hadir ketika diundang. Mereka melihat kehadiran sebagai bentuk dukungan, bahkan jika mereka sendiri tidak terlalu ingin datang.

Karena itu, mereka tetap menerima undangan. Namun, ketika acara dibatalkan, muncul rasa lega karena mereka tidak perlu melanggar norma yang mereka pegang, sekaligus tidak harus memaksakan diri.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Korea International